Archive for July, 2006

kesempurnaan

Monday, July 31st, 2006

Yang Sempurna yang Terpilih
Oleh Bayu Gawtama
27 Jul 06 07:37 WIB

Masih ingat zaman dulu ketika duduk di bangku Taman Kanak-Kanak? Setiap menjelang pulang para guru berdiri di depan dengan kalimat yang khas, “Siapa yang duduknya paling rapih pulang duluan,” seketika seluruh kelas hening tak bersuara, duduk dengan sikap paling sempurna, mulut tertutup rapat dengan tangan kanan dan kiri saling menindih di atas meja. Berdebar-debar menunggu siapa yang dinilai paling sempurna sikapnya dan disebutkan namanya untuk dibolehkan keluar kelas paling pertama. Ketika nama saya tak disebut, melainkan nama yang lain, saya mencoba lebih menyempurnakan sikap. Mungkin saja posisi tubuh saya belum tegap, atau tangannya tidak terlipat sempurna.

Tak hanya saya, teman lain yang tak dipanggil hingga panggilan kesekian pun semakin gelisah sambil terus memperhatikan letak duduk, posisi tubuh, hingga mata yang ditahan-tahan tak berkedip untuk menunjukkan sikap sempurna. Barulah senyum mengembang ketika nama disebut sambil melirik ke arah bangku kelas, karena ternyata masih ada beberapa teman tertinggal di belakang. Bangga sedikit boleh, tapi belum puas karena tidak menjadi yang paling sempurna.

Keesokan harinya, ketika masuk kelas sudah berpikir untuk bersiap-siap jika menjelang pulang nanti harus bersikap jauh lebih baik, jauh lebih sempurna dari kemarin. Alhasil, meski tidak juga menjadi yang pertama, tetapi lebih baik dari kemarin. Terus hingga hari berikutnya pun sikap sempurnanya diperbaiki lagi hingga pada suatu hari mendapat kesempatan untuk keluar kelas urutan pertama. Bangga, pasti. Senang, jelas. Karena dari hari ke hari berupaya untuk menjadi yang paling sempurna tercapai di hari itu.

Di lain masa dan di lain tempat, hukum kesempurnaan itu terus berlaku. Teringat saat mengaji di kampung, Pak Ustadz akan mengizinkan para santri pulang ke rumah setelah menghapal salah satu surah pendek yang sudah ditentukan satu hari sebelumnya. Siapa yang sudah hapal dipersilahkan maju untuk diuji. Lancar dan bagus bacaannya, boleh pulang. Jika terbata-bata, silahkan duduk dan pelajari lagi sambil menunggu giliran berikutnya. Bagi yang tidak hapal, harap pasrah pulang paling akhir plus dengan sedikit ‘omelan’ Pak Ustadz.

Setiap kali seorang santri tengah diuji hapalannya, santri yang lain komat-kamit menghapal, sementara lainnya memperhatikan bacaan santri yang sedang diuji sambil berdebar-debar menunggu giliran. Santri yang sudah teruji, tak jarang menjadi contoh dan dipuji Pak Ustadz. Bangga, tentu saja lantaran hari itu ia menjadi yang pertama mampu melewati ujian. Seorang teman satu pengajian pernah mengisahkan kegembiraannya setelah terpilih mewakili pengajian kami untuk lomba hifdzil quran (hafalan quran). Meski pun tidak menang dalam perlombaan itu, terpilh untuk mewakili pengajian kami pun sudah prestasi luar biasa baginya.

Hukum kesempurnaan ini akan berlaku kapan pun dan di mana pun. Kesempurnaan dimaksud adalah bukan titik puncak dari apa yang bisa dilakukan seseorang. Melainkan sebuah upaya maksimal yang mampu diusahakan, ianya diperoleh melalui proses panjang yang melelahkan. Kesempurnaan bisa dicapai dengan akal pikiran, kerja keras yang tak kenal menyerah. Seorang siswa terpilih menjadi siswa teladan bukan hanya karena nilainya tertinggi, melainkan juga dinilai dari aspek lainnya seperti sikapnya terhadap guru dan teman, kepemimpinannya di kelas, kedisiplinan, kerapihan, kebersihan, dan kecakapan lainnya yang di atas rata-rata teman satu sekolahnya.

Seorang karyawan di sebuah perusahaan akan mendapat promosi bukan saja karena hasil kerjanya yang memuaskan selama satu tahun. Para atasannya juga melihat kedisplinan serta hubungan baiknya dengan sesama karyawan sehingga mampu menciptakan semangat kerja sama yang bagus. Sama halnya dengan orang tua yang tak segan-segan memberi hadiah kepada anaknya yang rajin, cerdas dan taat menjalankan perintahnya.

Karenanya, berusahalah terus untuk menjadi lebih baik dan lebih sempurna. Kalau kita bisa menapak anak tangga ke seratus, kenapa harus berhenti di anak tangga ke tujuh puluh? Kalau sanggup mendaki Mount Everest, kenapa hanya bukit kecil? Kalau sanggup menyelesaikan dua-tiga pekerjaan dalam sehari, kenapa hanya satu? Kalau sanggup mendapat nilai A dalam ujian, kenapa hanya berusaha mendapatkan B?

Allah itu sempurna, maka dekatilah Dia dengan cara yang sempurna. Sebagai hamba kita harus beribadah dan bekerja secara sempurna. Perbaikilah semua yang masih bisa diperbaiki, sempurnakan segala yang seharusnya bisa lebih sempurna. Bukankah orang-orang yang akan menghuni surga Allah adalah orang-orang terpilih? Jadilah sempurna, agar kita menjadi orang-orang terpilih. Insya Allah (bayu gawtama)

Miss Universe

Monday, July 31st, 2006

Tak Harus Menjadi Miss Universe
Oleh Hani Fatma Yuniar
28 Jul 06 09:45 WIB
Kirim teman

Tiga hari yang lalu saya sengaja menyempatkan diri untuk menyaksikan siaran tunda penganugerahan ratu sejagat, atau yang lebih dikenal dengan Miss Universe, tahun 2006. Di luar kebiasaan saya memang, karena sebelumnya saya hampir tidak pernah tertarik untuk menyaksikan acara serupa ini.

Satu hal yang membuatku tiba-tiba tertarik adalah keingintahuanku akan alasan-alasan para gadis seusiaku itu untuk mengikuti kontes kecantikan ratu sejagat ini. Kiranya, alasan apakah yang telah mendorong puteri dari Ethiopia untuk mengikuti kompetisi ini, meskipun negerinya terkenal tengah dilanda kelaparan dan kemiskinan. Begitupun dengan Indonesia yang selalu mengirimkan puterinya, meskipun juga selalu memicu banyak kontroversi.

”Ingin memberikan perubahan yang lebih baik bagi dunia”, kurang lebih itulah alasan umum yang mendasari 85 puteri dari seluruh penjuru dunia itu untuk mengikuti dan memenangkan kontes Miss Universe ini. Alasan tersebut memang sinkron jika dikaitkan dengan beberapa program Miss Universe yang bersifat sosial di beberapa negara. Namun alasan tersebut menjadi tidak sinkron, ketika proses penilaian kontes Miss Universe ini sebagian besar justru ”mengeksploitasi” secara sukarela lekuk-lekuk tubuh mereka.

”Apakah harus begini cara memberikan perubahan yang lebih baik bagi dunia?”

Saya yakin bahwa gadis manapun di dunia ini –termasuk saya, tentu ingin memberikan perubahan yang lebih baik bagi dunia. Dan tentu banyak jalan untuk mewujudkan mimpi dan harapan tersebut. Bahkan jalan tersebut bisa jadi jauh lebih baik dan bermartabat.

Mungkin kita bisa belajar dari Ayat Al-Akhrash, gadis Palestina usia belasan tahun yang telah rela mengorbankan nyawanya menjadi bom syahid untuk meledakkan Zionis Israel. Atau mungkin kita bisa belajar dari pahlawan wanita legendaris Indonesia, RA Kartini, yang telah memperjuangkan hak-hak wanita untuk memperoleh pendidikan, perlakuan, dan kehidupan yang adil. Atau tengoklah penulis buku best seller Tetsuko Kuroyanagi, yang telah berhasil menginspirasi dunia pendidikan lewat karya populernya ”Totto Chan”. Dan mungkin kita juga bisa belajar dari Mother Theressa, seorang ibu yang telah mengabdikan hidupnya untuk merawat penderita kusta di Calcutta, bahkan Nadine Chandrawinata (Puteri Indonesia) juga turut mengaguminya bukan.

Itulah sekelumit contoh hal-hal mulia yang dapat kita lakukan untuk memberi perubahan yang lebih baik bagi dunia. Dari mereka kita bisa belajar, bahwa untuk melakukannya tidak perlu melewati fase puteri-puterian yang justru akan mengurangi esensi dari perubahan itu sendiri. Karena kriteria-kriteria yang mereka gunakan untuk menobatkan seorang Miss Uiverse terlalu dangkal. Terlebih karena kemuliaan seorang wanita tidak cukup jika hanya diukur berdasarkan 3 B saja. ”Jadi, apakah Indonesia masih akan terus mengirimkan puterinya lagi tahun depan?”

”Pengen ngerubah dunia?! Nggak harus jadi Miss Universe lagi…”

tanya jawab>>>

Monday, July 31st, 2006

Husein Umar: Negara Muslim Non Arab Harus Pelopori Tekan AS dan Israel
Jumat, 28 Jul 06 16:31 WIB

Ketua Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia (DDII) Husein Umar menyatakan negara-negara muslim Non Arab harus dapat melakukan upaya-upaya yang proaktif dalam membantu penyelesaian krisis di Timur Tengah.

Upaya proaktif itu harus didukung dengan langkah-langkah membekukan hubungan dengan negara-negara yang memberikan dukungan kepada Israel, terutama Amerika Serikat.

Mayoritas negara-negara Arab tidak tegas mengecam serangan Israel ke Libanon yang sudah memasuki hari ke-16, bagaimana pendapat anda tentang hal ini?

Masalah negara Arab yang tidak tegas, sebenarnya mereka tergabung dalam Liga Arab, dan Liga Arab itu sendiri memiliki permasalahan internal, namun untuk permasalahan Palestina sebenarnya mereka satu. Dan persoalannya adalah ada tidak kemampuan seperti dulu, seperti yang dilakukan oleh Raja Faisal, yang pernah melakukan embargo minyak. Itu sangat berpengaruh besar sekali terhadap industri Barat, bisa menyebabkan kelumpuhan.

Saat ini negara-negara Arab kehilangan sosok pemimpin yang memiliki wibawa untuk seluruh negeri-negeri Arab. Walaupun Raja Abdullah mendesak AS menggunakan pengaruhnya terhadap Israel. Tapi AS malah mengirimkan ratusan senjata pemusnah massal, yang mampu sampai 40 meter di bawah tanah menghancurkan bunker-bunker di Libanon begitu juga di Palestina.

Karena itu saya usulkan sebaikya negara-negara muslim non Arab harus proaktif melakukan tekanan bersama-sama Liga Arab dan OKI harus ada upaya proaktif dan langkah-langkah itu harus diikuti dengan membekukan dulu hubungan-hubungan diplomatik, hanya membekukan saja tidak memutuskan, tapi memang itu mempunyai pengaruh.kita ikut menderita.

Kira-kira negara mana yang menjadi prioritas pembekuan hubungan diplomatik itu?

Negara-negara yang mendukung Israel, terutama Amerika Serikat, membekukan hubungan itu mempunyai pengaruh yang cukup dramatis, walaupun disisi lain akan berdampak kedalam negeri masing-masing negara. Kalau tidak seperti itu saya kira dampak dukungannya tidak terlalu terasa.

Setelah itu dilanjutkan dengan dengan mengirimkan pasukan ke PBB. Karena itu, memang DK PBB harus segera dirombak, kalau masih seperti sekarang apapun resolusinya mengenai Palestina, diveto terus.

Bagaimana anda memandang sikap OKI yang kabur, bagaimana merubahnya supaya lebih tegas?

Sekarang ini negara-negara OKI itu mempunyai problem internal, misalnya dibidang ekonomi dan ketergantungan dengan berbagai pihak. Dan yang lebih parah lagi penyebab munculnya sikap tidak tegas ini disebabkan kebanyakan negara yang disebut negara muslim, itu pemerintahannya sekuler.

Bagaimana pandangan anda melihat sikap pemerintah yang menunggu dikeluarkannya resolusi PBB sebelum mengirimkan pasukan perdamaian ke Libanon?

Saya kira sejak awal, sudah saya katakan pemerintah harus bersikap proaktif menggalang kekuatan diplomatik, karena kita ini negeri Muslim yang terbesar jadi kita hars keluar, melakukan kontak-kontak dengan mengirimkan delegasi keberbagai negara dan menggalang kekuatann negeri-negeri muslim non Arab seperti Iran, Malaysia, Turki, Pakistan, Bangladesh. Itu sangat mempunyai arti karena kita tidak terlibat langsung dalam konflik Timur Tengah, kita negeri muslim non Arab yang terbesar.

Menurut anda kalau pengiriman pasukan ini ditunda-tunda apa efek kedepannya?

Ya, itulah permainan Amerika Serikat, merekalah yang menguasai PBB, sedangkan pasukan perdamaian Indonesia tidak mungkin berangkat tanpa berlindung di bawah bendera PBB.

Apakah anda setuju kalau dibuat organisasi internasional yang lebih independen atau PBB tandingan sebagai kekuatan pengimbang?

Kalau menurut saya perkuat saja Organisasi Konferensi Islam (OKI), dan jika sudah seperti itu OKI ini berfungsi sebagai PBB tandingan. OKI itu sudah punya modal 57 negara, dan yang terpenting saat ini adalah bagaimana OKI bisa menarik negara-negara lain.

Bagaimana Anda melihat dukungan yang diberikan oleh masyarakat di Indonesia terhadap krisis di Timur Tengah?

Alhamdulillah, saya bersyukur dengan dukungan masyarakat terhadap Palestina, hal ini terjadi karena Palestina selalu ada dalam hati umat Islam, di sana berdiri dengan kokoh Masjidil Aqsha, sementara untuk partai-partai politik Islam dukungan itu masih terlambat diberikan. Padahal parpol ini perpanjangan tangan DPR, yang bisa mendorong pemerintah. Saya kira parpol Islam belum bisa bermain cantik, kalau untuk ormas Islam sudah bergerak dari tahun ke tahun.

Menurut prediksi anda apakah serangan Israel akan meluas kenegara Islam lainnya?

Sementara ini Israel akan berusaha menyerang Libanon dulu, saya belum lihat, tetapi bisa saja, namun serangan itu semata-mata bukan berasal dari Israel tetapi dari AS yang terus membidik Suriah, membidik Iran, kemungkinan akan ada terus. Tidak ada prosentase yang pasti karena itu murni politik. (noffelisa)

KITA HARUS PEDULI

Monday, July 31st, 2006

Tanya jawab hukum/fiqh Islam
bersama Ustaz Ahmad Sarwat, Lc.
Perang Libanon v.s. Israel, Arab Saudi Kok Diam?
Senin, 31 Jul 06 11:25 WIBUsarwat

Kirim Pertanyaan | Kirim teman

Assalamu’alaikum Wr. Wb.

Pak Ustadz, langsung saja. Saya sedih kok negara-negara yang termasuk dalam liga Arab terutama Arab Saudi diam seribu bahasa, tidak ada tindakan apapun. Apa ini yang disebut dengan hadist Rasullulah: bahwa ketika orang Islam sudah cinta dunia dan takut mati. Takut berperang dengan Bangsa (Iblis) Israel. Saya tidak tidak mau mencantumkan beberapa hadist tentang “ketakutan” untuk perang dengan bangsa Israel, semua hadist tentang Israel alias Yahudi sangat relevan…. BAHWA ORANG-ORANG ARAB, KUWAIT.. dan lain-lain yang sudah kaya raya takut MEMBELA SAUDARA KITA DI LIBANON, KARENA MEREKA SUDAH DILIPUT PERASAAN CINTA DUNIA.. TAKUT MATI….. MANA FATWA-FATWA ULAMA ARAB SAUDI SEPERTI SYEKH AL-BANNI TENTANG FATWA TENTANG BANGSA ISRAEL…. jangan-jangan Arab Saudi, Kuwait dkk. juga mendukung ISRAEL untuk menggempur LIBANON dan PALESTINA yang sangat tidak setuju dengan perjuangan HAMAS dan HIZBULLAH.

Mohon bahasan khusus Ustadz tentang permasalahan konflik Timur-Tengah. Terima kasih.

Wassalam,

Le’ Miun
Jawaban

Assalamu ‘alaikum warahmatullahi wabarakatuh

Selama kita umat Islam ini memandang bahwa perang yang terjadi hanya antara Israel dengan Libanon, maka wajar saja bila negara Islam lain kelihatannya pura-pura tidak tahu.

Dan memang inilah maunya Israel, ketimbang harus berhadapan dengan 1.5 milyar umat Islam, lebih baik mereka menjalankan politik pecah belah. Dengan demikian, menjadi sangat mudah bagi Israel untuk melumat umat Islam sejengkal demi sejengkal. Dan memang itu adalah grand design yang mereka kehendaki.

Adapun kenapa ulama Saudi diam saja, sebenarnya tidak juga. Banyak ulama di negeri itu yang vokal dan menyerukan jihad melawan Israel. Sedangkan Syeikh Bin Baz dan Syeikh Al-Bani sudah menghadap Allah SWT. Seandainya masih hidup, insya Allah mereka tidak akan tinggal diam kalau menyaksikan kebrutalan Israel.

Mungkin kalau ulama di bawah otoritas kerajaan kelihatan diam saja, tentu amat wajar. Mana ada sih pemerintahan di negeri muslim ini yang bisa benar-benar independen? Kalau tidak terlalu berlebihan, boleh kita bilang nyaris semua pemerintahan negeri-negeri muslim di dunia seperti terjerat lehernya di bawah telapak kaki Yahudi.

Pantas kalau mereka pun menjerat leher para ulama yang berada di tangan mereka. Jangan kita sangka bahwa mereka bahagia. Tidak, mereka pun ikut sedih, paling tidak kesedihan itu ada dalam lubuk hati yang paling dalam. Tapi apa mau dikata, semua ini adalah sebuah ‘harga’ bagi masing-masing penguasa di negeri Islam itu, kalau tidak mau di-SADDAM-kan.

Buat Amerika dan tuannya, Israel, tidak boleh ada pemerintahan di dunia ini yang boleh bebas dari hegemoni mereka, bahkan hingga masalah hukum di dalam negeri masing-masing. Semua telah diikat erat-erat sehingga tidak satu pun yang bisa bergerak. Bergerak sedikit resikonya tidak tanggung-tanggung, negeri ini bisa diboikot habis-habisan, bahkan ditudur teroris, anti HAM, atau dituduh menyimpang senjata kimia atau macam-macam lagi.

Dunia Islam baik rakyat dan pemerintahannya sebenarnya tawanan yang sedang menunggu giliran dieksekusi mati. Semua tangan dan kaki mereka diikat, mulut mereka disumpal. Lalu satu persatu digebuki sampai mati. Kalau kita melihat saudara kita sedang mendapat giliran disiksa sampai mati, tidak satu pun di antara kita yang boleh menoleh, apalagi berkomentar atau melawan. Pasti akan segera mendapat giliran berikutnya.

Maka amat wajar bahwa banyak ulama pemerintah yang duduk manis, diam saja, atau malah pura-pura tidak tahu penderitaan saudaranya. Mungkin akan lebih bebas dan lebih vocal adalah rakyatnya, yang bebas berujuk rasa. Atau para ulama yang tidak terikat kebijakan para penguasa. Mereka mungkin lebih independen, lebih nyaring vokalnya, tapi ada resikonya, yaitu sewaktu-waktu bisa saja di-dor di tempat atau berakhir di tiang gantungan.

Konyolnya, semua itu bukan langsung dieksekusi oleh lawan, tetapi seringkali meminjam tangan sesama muslim, yaitu para penguasa kaki tangan penjajah. Bukankah Hasan Al-Banna dan Sayyid Qutub sudah membuktikannya? Sayangnya, banyak ulama hari ini yang tidak seberuntung mereka. Menyongsong kematian dengan senyuman, syahid fi sabilillah.

Di luar para ulama yang shalih itu, baik yang terikat mau pun yang independen, memang ada segelintir kalangan yang tidak termasuk kategori ulama umat, melainkan tokoh kelompok kecil tertentu, yang justru sangat menguntungkan penjajah. Mungkin niat mereka ikhlas, tapi akibatnya sangat merugikan umat Islam. Mereka seringkali mencaci-maki para pejuang Islam, bahkan menudingnya sebagai ahli bid’ah, khawarij bahkan teroris.

Sadar atau tidak, apa yang mereka lakukan itu memang sangat menguntungkan Yahudi dan Amerika. Sebab kedua musuh Allah itu tidak perlu sudah payah membasmi secara langsung, cukup dengan meminjam tenaga kelompok ini untuk meruntuhkan perlawanan umat Islam dari dalam.

Gaya ini sebenarnya cukup kuno, sebab dari dulu Belanda sudah menjalankannya. Tetapi terbukti masih sangat efektif untuk melemahkan umat Islam. Yang menarik, adanya pengkhianatan seperti ini selalu saja terjadi di setiap waktu dan di setiap tempat.

Entah mereka menyadari atau tidak, tapi yang jelas apa yang mereka lakukan itu sangat merugikan umat. Dan memang teramat menyakitkan, karena nyaris semua orang yang tidak ikut dalam barisan mereka caci maki bahkan dianggap sesat. Namun kelompok ini terlalu kecil untuk dipusingkan, sebab bukan hanya jumlahnya sedikit, banyak orang yang awalnya tertarik, lama kelamaan semakin menjauhinya. Karena akhlaq dan paham mereka yang sangat kontrovesial.

Namun biar bagaimana pun mereka adalah muslim saudara kita juga. Tentunya perlu diajak duduk baik-baik untuk diarahkan dengan cara yang hikmah.

Wallahu a’lam bishshawab, wassalamu ‘alaikum warahmatullahi wabarakatuh,