Archive for August, 2006

Kiamat Semakin Dekat: Meratanya Kebodohan dan Pengkhianatan

Thursday, August 31st, 2006

Kiamat Semakin Dekat: Meratanya Kebodohan dan Pengkhianatan
Dikirim oleh Cyber Muslim || Jumat, 11 Agustus 2006 - Pukul: 10:38 WIB

Nabi Muhammad shallallahu alaihi wasalam telah memberitakan tentang tanda-tanda kiamat shughra (kiamat kecil) kepada umat manusia yang mau beriman kepada Alloh dan menerima kebenaran yang dibawa beliau. Diantaranya adalah meratanya kebodohan, dan disia-siakannya amanah. Disia-siakannya amanah artinya adalah khianat. Khianat yang paling menonjol adalah menyerahkan urusan kepada orang yang bukan ahlinya. Menyerahkan urusan agama kepada orang-orang yang tidak memahami dan bahkan tidak pernah belajar agama dengan baik dan benar sehingga tidak ada sedikitpun kemampuannya dalam urusan Syariat Islam ini kecuali hanya sekedar pemanis di mulut.

Dalam pembahasan ini, InsyaAlloh akan dikemukakan tentang dicabutnya ilmu (agama), dan bercokolnya kebodohan, kemudian tentang disia-siakannya amanah, yaitu diserahkannya urusan kepada orang yang bukan ahlinya.

Pertama, Dicabutnya ilmu agama dan bercokolnya kebodohan
Dari Anas radhiallahu anhu, ia berkata: Rasulullah shallallahu alaihi wasalam bersabda: “Sesungguhnya di antara tanda-tanda (akan datangnya) kiamat adalah jika ilmu (agama) diangkat/ hilang, kebodohan dikukuhkan, khamr/ minuman keras diminum, dan perzinaan tampak nyata.” (HR Al-Bukhari, Muslim dan Ahmad ).

Benar. Gejala itu telah tampak nyata pada zaman kita sekarang.

Ilmu (agama) yang diwarisi dari Nabi shallallahu alaihi wasalam , sahabat-sahabatnya, tabi’in, dan para imam ahli ilmu setelah mereka, kini sungguh telah dijauhi oleh kebanyakan orang. Sedikit sekali orang yang menekuni dan memperhatikan ilmu agama yang murni dari Rasulullah shallallahu alaihi wasalam dengan manhaj (jalan pemahaman) para pendahulu yang Sholih, yaitu tiga generasi awal Islam, yakni generasi sahabat Nabi shallallahu alaihi wasalam , Tabi’in, dan Tabi’it Tabi’in. Kebanyakan orang telah mengalihkan perhatiannya kepada koran-koran, majalah, dan media massa lainnya seperti televisi, radio dan sebagainya yang kebanyakan media massa itu memuat materi-materi kejahilan (jauh dari agama). Itu adalah pengalihan perhatian ummat Islam yang tadinya tertuju ke ilmu agama, kini telah beralih jauh, baik di belahan bumi timur maupun di barat.

Ilmu yang dimaksud dalam hadits itu adalah ilmu syar’i, ilmu agama Islam. Dan yang dimaksud “dicabut dan matinya ilmu” itu bukanlah dicabutnya ilmu dari akal manusia, tetapi maknanya adalah diwafatkannya para ulama, sehingga tidak tersisa lagi di dunia ini kecuali orang-orang bodoh, yang tidak faham ilmu agama.

Dalil mengenai hal itu adalah hadits Abdullah bin Umar radhiallahu anhum , ia berkata, bersabda Rasulullah shallallahu alaihi wasalam: “Sesungguhnya Allah Ta’ala tidak mencabut ilmu (agama) dengan mencabutnya dari hamba-hamba-Nya, tetapi Dia mencabut ilmu (agama) itu dengan mewafatkan para ulama, sehingga ketika tidak tersisa lagi seorang alim pun maka manusia mengangkat pemimpin-pemimpin yang bodoh, kemudian mereka ditanya, lalu mereka berfatwa dengan tanpa ilmu, maka mereka pun sesat dan menyesatkan.” (HR Al-Bukhari, Muslim, At- Tirmidzi, dan Ibnu Majah, dalam Kitab Shahih Al-Jami’ As-Shaghir no. 1850).

Dicabutnya ilmu (agama) itu tidak mesti lantaran dicabutnya Al-Quran, sebagaimana difahami oleh sebagian orang. Salah seorang dari Sahabat Anshar: Bagaimana (ilmu agama itu) dicabut, sedangkan kami membaca Al-Quran, dan kami bacakan Al-Quran kepada anak-anak dan isteri-isteri kami? Maka Nabi shallallahu alaihi wasalam menjawab: “Sungguh sebelumnya aku menganggap kamu seorang yang pandai penduduk Madinah; bukankah Taurat dan Injil ada pada orang-orang Yahudi dan Nashrani? Tetapi apa manfaatnya bagi mereka?” Maka semata-mata masih adanya kitab-kitab di perpustakaan-perpustakaan itu tidak menjamin masih adanya ilmu.” (lihat Majmu’ Al-Fatawa al-Kubra oleh Ibnu Taimiyyah 18/304, dan Hadits tersebut ada di Sunan An-Nasa’i Al-Kubra no. 5877, dengan lafadh yang hampir sama).

Kedua, Khamr dan perzinaan
Adapun tentang khamr atau minuman keras, atau sekarang istilahnya “narkoba” (narkotika, obat-obat terlarang/ keras, dan alkohol) maka sungguh telah merajalela. Baik dijual belikan, maupun diminum. Itu terjadi di mana-mana di sebagian besar negara di dunia. Khamr itu dinamai dengan sebutan yang bukan namanya, supaya dianggap halal meminumnya, menjualnya, dan memakan harganya. Ada yang dinamai minuman kesegaran jiwa, ada yang dinamai bir, nabidz, wisky dan lain-lain, dengan nama-nama yang dihiasi dengan bunga-bunga secara lahiriah, namun isi di dalamnya mengandung dosa dan kefasikan.

Kemudian, kita kembali kepada hadits tersebut, tentang tampak nyatanya perzinaan. Kini telah benar-benar terjadi, dalam hal perzinaan telah diadakan pasar tempat menjajakan kemaksiatan dan dosa besar itu sampai di negeri-negeri yang penduduknya membangsakan diri mereka dengan Islam. Bahkan ketika para ulama dan ummat Islam memprotes selama bertahun-tahun agar lokalisasi perzinaan dihapus, kemudian diinstruksikan penghapusan sebagiannya, ternyata ada suara-suara sumbang yang seolah meratapi dihapusnya pusat dosa besar dan penyebaran penyakit berbahaya itu. Sehingga yang terjadi bukan sekadar tampak nyatanya perzinaan, namun justru pandangan hidup sebagian orang yang mendukung adanya kemaksiatan, dengan aneka kilah yang dibuat-buat. Ini bukan sekadar jahil terhadap ilmu agama, namun sengaja menjauhkan diri dari pandangan hidup yang berlandaskan agama.

Bagaimana pula keadaannya nanti bila kondisi dan situasinya seperti dalam hadits berikut ini: “Termasuk tanda-tanda kiamat jika ilmu (agama) sedikit, kebodohan muncul, perzinaan tampak nyata, wanita-wanita (jumlahnya) banyak, dan laki-laki sedikit, sehingga untuk 50 wanita (hanya ada) satu wali (lelaki yang mengurusi mereka).” (HR Al-Bukhari dan Ahmad).

Dan dari Abdullah bin Mas’ud dan Abi Musa radhiallahu anhum , keduanya berkata: Bersabda Rasulullah shallallahu alaihi wasalam : “Sesungguhnya menjelang kiamat kelak pasti ada hari-hari yang di sana kebodohan berada, sedang saat itu ilmu (agama) hilang terangkat, dan pembunuhan merajalela.” (HR Al-Bukhari, Muslim, dan Ahmad -dalam Kitab Shahih Al-Jami’ As-Shaghir no. 2047).

Benarlah apa yang disabdakan Nabi shallallahu alaihi wasalam itu, sudah jelas peristiwa-peristiwa itu tengah berlangsung di zaman sekarang ini, selain dua perkara saja, yaitu berkurangnya kaum lelaki dan sangat banyaknya wanita.

Ketiga, Disia-siakannya amanah
Mengenai disia-siakannya amanah, ada hadits-hadits Nabi shallallahu alaihi wasalam yang menjadi tanda akan datangnya kiamat pula. Dari Abi Hurairah radhiallahu anhu bahwa seorang dusun bertanya: Wahai Rasulullah, kapan kiamat itu? Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasalam menjawab: “Jika amanah telah disia-siakan maka nantikanlah (datangnya) kiamat.” Orang dusun itu berkata: Bagaimana menyia-nyiakannya? Nabi Shallallahu ‘alaihi wasalam bersabda: “Apabila perkara sudah diserahkan kepada yang bukan ahlinya maka nantikanlah kiamat itu.” (HR Al-Bukhari dalam Kitab Shahihnya dan Ahmad dalam Kitab Musnadnya, Al-Misykat no. 5439).

Dan dalam riwayat Al-Bukhari: “Apabila perkara telah disandarkan kepada yang bukan ahlinya maka tunggulah kiamat.”

Al-Hafidh Ibnu Hajar berkata dalam Kitab Fathul Bari: Penyandaran perkara kepada yang bukan ahlinya itu hanyalah akan terjadi ketika kebodohan telah lumrah (umum) dan ilmu (agama) telah hilang. Hal itu termasuk membebani di luar kemampuan, sedang tuntutan seharusnya, kalau ilmu masih tegak maka ada keleluasaan dalam hal perkara itu (sehingga tidak akan diserahkan kepada yang bukan ahlinya).

Yang juga dimaksud dengan perkara adalah perkara-perkara yang bergantung dengan agama, seperti khilafah (kekhalifahan), imarah pemerin-tahan, qadha’ (hukum), ifta’ (fatwa) dan lain-lain. Apabila perkara-perkara ini diserahkan kepada yang bukan ahlinya, maka hal itu akan menghilangkan kepentingan ummat dan kaum Muslimin. Apabila kita lihat keadaan kita sekarang ini, maka kita temui bahwa perkara itu telah diserahkan kepada orang-orang yang bukan ahlinya, seperti yang disebutkan dalam Hadits Nabi Shallallahu ‘alaihi wasalam tersebut.

Sungguh, urusan itu telah diserahkan kepada orang-orang yang bukan ahlinya, yaitu orang yang tidak ada perhatian kecuali terhadap kepentingan dunia yang fana’ ini, dan hanya ke sanalah mata ditujukan. Adapun kepentingan akherat, maka urusan itu mereka buang jauh-jauh dan tak diperhatikan. Tiada yang dapat kita ucapkan kecuali: Suatu ucapan yang diucapkan ketika kita mendapat musibah.

(Sumber: Diadaptasi dari Kitab Ar-Risalah fi al-Fitan wa al-Malahim wa Ashrath as-Sa’ah oleh Abi Ubaidah Mahir bin Shalih Al Mubarak, di-taqridh (apresiasi) oleh Syaikh Abu Bakar Jabir Al-Jazairi, 1993M/ 1414H.)

Penyakit-Penyakit Hati

Monday, August 28th, 2006

Penyakit-Penyakit Hati
Al-Imam Ibnu Abil ‘Izzi

Pengantar:
Untuk sedikit menambah pengetahuan kita tentang penyakit hati, berikut ini akan saya kutipkan risalah dari buku “Tahdzib Syarh Ath-Thahawiyah…” karya Syeikh Abdul Akhir Hammad Alghunaimi. Akan tetapi, barangkali risalah itu sendiri lebih tepat disebut karya Al-Imam Ibnu Abil ‘Izzi, karena beliaulah yang menulisnya sebagai syarh (penjelasan) dari kitab Aqidah yang disusun oleh Imam Ath-Thahawi yang dikenal dengan kitab “Aqidah Thahawiyah”. Sedang Syeikh Abdul Akhir Hammad Alghunami adalah yang melakukan tahdzib (penataan ulang). Semoga bermanfaat.

Hati itu dapat hidup dan dapat mati, sehat dan sakit. Dalam hal ini, ia lebih penting dari pada tubuh.
Allah berfirman, artinya:
“Dan apakah orang yang sudah mati kemudian dia Kami hidupkan dan Kami berikan kepadanya cahaya yang terang, yang dengan cahaya itu dia dapat berjalan di tengah-tengah masyarakat manusia, serupa dengan orang yang keadaannya berada dalam gelap gulita yang sekali-kali tidak dapat keluar dari padanya.” (Al-An’am : 122)
Artinya, ia mati karena kekufuran, lalu Kami hidupkan kembali dengan keimanan. Hati yang hidup dan sehat, apabila ditawari kebatilan dan hal-hal yang buruk, dengan tabi’at dasarnya ia pasti menghindar, membenci dan tidak akan menolehnya. Lain halnya dengan hati yang mati. Ia tak dapat membedakan yang baik dan yang buruk.

Dua Bentuk Penyakit Hati:

Penyakit hati itu ada dua macam: Penyakit syahwat dan penyakit syubhat. Keduanya tersebut dalam Al-Qur’an.
Allah berfirman, artinya:
“Maka janganlah kamu tunduk dalam berbicara (melembut-lembutkan bicara) sehingga berkeinginanlah orang yang ada penyakit dalam hatinya. ” (Al-Ahzab:32)
Ini yang disebut penyakit syahwat.

Allah juga berfirman, artinya:
“Dalam hati mereka ada penyakit, lalu ditambah Allah penyakitnya…” (Al-Baqarah : 10)
Allah juga berfirman, artinya:
“Dan adapun orang yang didalam hati mereka ada penyakit, maka dengan surat itu bertambah kekafiran mereka, di samping kekafirannya (yang telah ada).” (At-Taubah : 125)

Penyakit di sini adalah penyakit syubhat. Penyakit ini lebih parah daripada penyakit syahwat. Karena penyakit syahwat masih bisa diharapkan sembuh, bila syahwatnya sudah terlampiaskan. Sedangkan penyakit syubhat, tidak akan dapat sembuh, kalau Allah tidak menanggulanginya dengan limpahan rahmat-Nya.

Seringkali penyakit hati bertambah parah, namun pemiliknya tak juga menyadari. Karena ia tak sempat bahkan enggan mengetahui cara penyembuhan dan sebab-sebab (munculnya) penyakit tersebut. Bahkan terkadang hatinya sudah mati, pemiliknya belum juga sadar kalau sudah mati. Sebagai buktinya, ia sama sekali tidak merasa sakit akibat luka-luka dari berbagai perbuatan buruk. Ia juga tak merasa disusahkan dengan ketidak mengertian dirinya terhadap kebenaran, dan keyakinan-keyakinannya yang batil. “Luka, tak akan dapat membuat sakit orang mati.” *). Terkadang ia juga merasakan sakitnya. Namun ia tak sanggup mencicipi dan menahan pahitnya obat. Masih bersarangnya penyakit tersebut di hatinya, berpengaruh semakin sulit dirinya menelan obat. Karena obatnya dengan melawan hawa nafsu. Itu hal yang paling berat bagi jiwanya. Namun baginya, tak ada sesuatu yang lebih bermanfaat dari obat itu. Terkadang, ia memaksa dirinya untuk bersabar. Tapi kemudian tekadnya mengendor dan bisa meneruskannya lagi. Itu karena kelemahan ilmu, keyakinan dan ketabahan. Sebagai halnya orang yang memasuki jalan angker yang akhirnya akan membawa dia ke tempat yang aman. Ia sadar, kalau ia bersabar, rasa takut itu sirna dan berganti dengan rasa aman. Ia membutuhkan kesabaran dan keyakinan yang kuat, yang dengan itu ia mampu berjalan. Kalau kesabaran dan keyakinannya mengendor, ia akan balik mundur dan tidak mampu menahan kesulitan. Apalagi kalau tidak ada teman, dan takut sendirian.

Menyembuhkan Penyakit Dengan Makanan Bergizi dan Obat:

Gejala penyakit hati adalah, ketika ia menghindari makanan-makanan yang bermanfaat bagi hatinya, lalu menggantinya dengan makanan-makanan yang tak sehat bagi hatinya. Berpaling dari obat yang berguna, menggantinya dengan obat yang berbahaya. Sedangkan makanan yang paling berguna bagi hatinya adalah makanan iman. Obat yang paling manjur adalah Al-Qur’an masing-masing memiliki gizi dan obat. Barangsiapa yang mencari kesembuhan (penyakit hati) selain dari Al-kitab dan As-sunnah, maka ia adalah orang yang paling bodoh dan sesat.
Sesungguhnya Allah berfirman:
“Katakanlah: “Al-qur’an itu adalah petunjuk dan penawar bagi orang-orang yang beriman. Dan orang-orang yang tidak beriman pada telinga mereka ada sumbatan, sedang Al-qur’an itu suatu kegelapan bagi mereka. Mereka itu adalah (seperti) orang-orang yang dipanggil dari tempat jauh.” (Fushshilat : 44)

Al-qur’an adalah obat sempurna untuk segala penyakit tubuh dan hati, segala penyakit dunia dan akherat. Namun tak sembarangan orang mahir menggunakan Al-qur’an sebagai obat. Kalau si sakit mahir menggunakannya sebagai obat, ia letakkan pada bagian yang sakit, dengan penuh pembenaran, keimanan dan penerimaan, disertai dengan keyakinan yang kuat dan memenuhi syarat-syaratnya. Tak akan ada penyakit yang membandel. Bagaimana mungkin penyakit itu akan menentang firman Rabb langit dan bumi; yang apabila turun di atas gunung, gunung itu akan hancur, dan bila turun di bumi, bumi itu akan terbelah? Segala penyakit jasmani dan rohani, pasti terdapat dalam Al-qur’an cara memperoleh obatnya, sebab-sebab timbulnya dan cara penanggulangannya. Tentu bagi orang yang diberi kemampuan mamahami kitab-Nya.

*) [Penggalan akhir bait sya'ir Al-Mutanabbi, yang mana penggalan awalnya adalah: "Orang yang hina, akan mudah mendapat kehinaan"]

Yang Mengharap Cahaya-Nya

Tuesday, August 8th, 2006

Yang Mengharap Cahaya-Nya
Oleh Seriyawati

Panas terik. Bahkan sejak pagi sengatan matahari begitu menyilaukan. Setelah beberapa hari sebelumnya cuaca di kota Nagoya mendung dan hujan, Sinar mentari kembali menyeruak langit. Seakan memberi kesempatan bagi yang ingin melangkahkan kakinya menuju masjid.

Setelah sholat Subuh, bukannya terus beraktifitas, saya dan anak-anak tidur kembali. Rasa lelah karena hari Jumat pergi ke rumah teman yang rumahnya agak jauh, masih belum pulih. Bangun jam delapan pagi, setengah jam kemudian barulah saya mulai memasak untuk bekal makan siang. Tak dinyana, jam sepuluh barulah persiapan selesai. Jadwal berangkat ke masjid yang biasanya naik kereta bawah tanah yang jam 10:35, menjadi terlambat.

Begitu keluar dari pintu tiket, telepon genggam saya berdering. “Mbak, sekarang ada di mana?” tanya teman saya.
“Ini, lagi menuju pintu keluar stasiun,” jawab saya dengan nada malu yang ditutup-tutupi.
“Mbak ada di mana?” tanya saya asal, walaupun saya menduga dia sudah ada di Masjid.
“Ada di Masjid, mbak. Belum bisa mulai. Lha… lurahnya belum datang…” katanya bercanda.

Saya mengajak anak-anak saya lebih bergegas. Rasa tak enak hati karena datang terlambat begitu menyelimuti diri. Begitu tiba di pintu depan Masjid, saya berpapasan dengan seorang teman saya. Rupanya dia ada keperluan keluar sebentar.

Sambil membentangkan pintu tetap terbuka, saya menyuruh anak-anak saya masuk, sambil berkata,”Baca bismillah, masuk kaki kanan dulu…”
Teman saya itu berkata, “Oh, kaki kanan dulu ya, kalau masuk Masjid?”
“Iya, berdoa minta Allah membuka pintu-pintu rahmat-NYA untuk kita, lalu masuk kaki kanan dulu, nanti kalau keluar kaki kiri dulu.”
Sambil tetap memegang pintu saya menjawab pertanyaannya. “Terima kasih mbak, jadi tahu, nih…” dia berlalu dengan senyum.

Ruangan untuk muslimah ada di lantai dua. Begitu menguak pintu dan mengucap salam, beberapa teman dan anak-anaknya sudah ada di dalam.

Hari ini anak-anak yang datang ke Masjid lebih banyak daripada hari Sabtu minggu lalu. Rasa senang bisa berkumpul dan belajar Al-Quran bersama bukan saya saja yang merasakannya, saya yakin anak-anak saya pun merasakannya.

Ini akan membuat mereka lebih rajin dan semangat kalau diajak pergi ke Masjid. Semoga keadaan demikian terus berlanjut, harap saya dalam hati.

***

Berbeda dengan di Indonesia yang begitu mudahnya menemui masjid, musholla dan langgar-langgar. Bahkan di perumahan-perumahan, musholla bisa ditemui di tiap RT atau RW. Di Nagoya, tempat tinggal saya sekarang hanya ada satu masjid. Begitupun kami bersyukur, karena tidak semua kota di Jepang ada masjid.

Berawal dari keinginan yang sederhana, ingin agar anak-anak dekat dan mencintai masjid. Kegiatan mengaji untuk anak-anak di masjid tiap hari Sabtu itu sejak beberapa tahun yang lalu rutin diadakan.
Selain itu adanya kerinduan akan suara adzan yang dikumandangkan sang muadzin, kerinduan akan sosok-sosok yang berduyun-duyun mendatangi masjid, membuat saya bersemangat mengajak anak-anak pergi ke masjid.

Yang lebih menggugah semangat adalah tidak sedikit ibu-ibu yang dengan rela dan ikhlas membawa anak-anaknya ke masjid. Padahal tempat tinggal mereka jauh dari masjid yang letaknya ada di dalam kota Nagoya. Bahkan ada yang datang dari luar Nagoya.

Ada pula ibu-ibu yang membawa anaknya yang masih kecil-kecil dan belum bisa berbicara, agar anaknya bisa meniru kebiasaan-kebiasaan baik yang dilihatnya, seperti membaca doa sebelum belajar, doa sebelum dan sesudah makan, gerakan-gerakan sholat, ataupun akhlak perbuatan dan akhlak lisan lainnya.

Panas matahari yang begitu terik tidak mengurangi semangat, tidak melemahkan niat apatah lagi menyurutkan langkah mereka menuju masjid. Sungguh hanya niat yang kuat untuk mendapat rahmat dan cahaya-NYAlah, mereka rajin datang ke masjid. Semoga setiap langkah kita ke masjid akan menjadi bekas (atsar) kebaikan di sisi Allah. Allahumma amiin.

***

Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wassalam menyatakan, orang-orang yang selalu terpaut dengan masjid, selain memperoleh naungan Allah Subhanahu Wa Ta’ala pada hari kiamat, juga mendapatkan pahala pada setiap langkahnya.

Ketika sekelompok orang dari Bani Salamah ingin mendirikan tenda di halaman masjid, Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wassalam menyarankan, ”Wahai Bani Salamah, rumah-rumah kalian yang jauh dari masjid lebih utama. Karena, setiap langkah kalian ke masjid akan menjadi bekas (atsar) kebaikan di sisi Allah.” (HR Muslim dari Jabir bin Abdullah).

Rasulullah bersabda, “Karuniailah mereka yang berjalan dalam kegelapan menuju masjid dengan sinar yang sempurna di hari kiamat.” (HR Abu Dawud & Trimidzi).

“Ya Allah, jadikanlah di dalam hatiku cahaya, di lidahku cahaya, di pendengaranku cahaya, di penglihatanku cahaya. Jadikan di belakangku cahaya, di hadapanku cahaya, dari atasku cahaya, dan dari bawahku cahaya. Ya Allah berikan kepadaku cahaya.”

ntuk yang mau nikah

Wednesday, August 2nd, 2006

janji Allah bagi yang akan menikah….

Ketika seorang muslim baik pria atau wanita akan menikah, biasanya akan timbul perasaan yang bermacam-macam. Ada rasa gundah, resah, risau, bimbang, termasuk juga tidak sabar menunggu datangnya sang pendamping, dll. Bahkan ketika dalam proses taaruf sekalipun masih ada juga perasaan keraguan.

Inilah kabar gembira berupa janji Allah bagi orang yang akan menikah.
1. ………wanita-wanita yang baik adalah untuk laki-laki yang baik dan laki-laki yang baik adalah untuk wanita-wanita yang baik (pula)”. (An Nuur : 26)

2. ………Jika mereka miskin Allah akan memampukan mereka dengan karunia-Nya. Dan Allah Maha Luas (Pemberian-Nya) lagi Maha Mengetahui”. (An Nuur: 32)

3. “Ada tiga golongan manusia yang berhak Allah tolong mereka, yaitu seorang mujahid fi sabilillah, seorang hamba yang menebus dirinya supaya merdeka dan seorang yang menikah karena ingin memelihara kehormatannya”. (HR. Ahmad 2: 251, Nasaiy, Tirmidzi, Ibnu Majah hadits no. 2518, dan Hakim 2: 160)[1]

4. “Dan diantara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu istri-istri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tentram kepadanya, dan dijadikan-Nya diantaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berfikir”. (Ar Ruum : 21)

5. ………Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Kuperkenankan bagimu……….(Al Mu’min : 60)

6. “Karena sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan, sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan”. (Alam Nasyrah : 5 – 6)

7. “Hai orang-orang yang beriman jika kamu menolong (agama) Allah, niscaya Dia
akan menolongmu dan meneguhkan kedudukanmu”. (Muhammad : 7)

8. “Sesungguhnya Allah pasti menolong orang yang menolong (agama)-Nya. ……………………..(Al Hajj : 40)

dan tentunya masih banyak lagi!!!